20 November 2008

AISYAH, SANG PENYANDANG SUTERA HIJAU

AISYAH, SANG PENYANDANG SUTERA HIJAU

Oleh: Mariyatul Kibtiyah

Judul Buku : The Endless Love; AISYAH Istri Rasulullah Saw Dunia Dan Akhirat
Penulis : Dr. Abdurrahman Bin Shalih Al-Asymawi
Penerbit : Embun Publishing
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal : 162 Halaman

Aisyah adalah salah seorang istri Nabi SAW yang paling dikenal dekat kepadanya, dan paling memikat hatinya yang suci nan mulia.Di mata Rasulullah SAW, Aisyah memiliki tempat tersendiri, baik sebagai istri maupun sebagai ummul mukminin (ibunda umat Islam). Dia satu-satunya istri Nabi yang dinikahkan langsung oleh Allah. Sepeninggal Khadijah, Rasulullah SAW didatangi jibril di dalam mimpinya. Ketika itu Jibril memperlihatkan potret Aisyah dalam secarik kain sutera hijau. Jibril as. mengatakan bahwa “Inilah pendamping hidup (istri)-mu di dunia dan di akhirat”.
Karena kedekatannya dengan Nabi SAW yang juga suaminya, Aisyah telah meriwayatkan banyak hadits dari Rasulullah SAW hingga mencapai 2000 hadits. Aisyah sangat mengenal Rasulullah SAW dengan sangat detil. Sehingga di mata para sahabat pun Aisyah sangatlah istimewa. Berbagai pertanyaan pelik yang diajukan para sahabat seputar hukum, wahyu, perilaku Nabi, dan lainnya, mampu ia jawab dengan jelas dan tuntas.
Aisyah sungguh sosok muslimah yang sangat fenomenal. Ia adalah seorang yang pandai dalam ilmu Al-Qur’an, ilmu kedokteran, ahli Fiqih juga Ahli dalam bidang balaghah (tata bahasa). Figur wanita sempurna yang memiliki segudang keistimewaan ini patut dikenal lebih jauh agar menambah kekaguman kita kepada wanita yang paling dicintai Rasulullah SAW ini.
Sebagaimana kita ketahui masa Arab pra-Islam, orang-orang Arab sungguh menyukai syair, puisi dan sastra bahkan mereka saling bertanding di pasar Ukaz untuk menjadi penyair terbaik. Keunggulan retorika menjadi primadona yang mempesona. Syair membawa masyarakat melayang tinggi ke angkasa, atau menjatuhkannya ke dasar jurang yang terjal.
Interaksi Ummul mikminin Aisyah ra. dengan bahasa memiliki nilai dan sentuhan istimewa. Tidak dipungkiri, Allah SWT telah menganugerahinya kecerdasan intelektual, ketajaman pemahaman, jiwa besar, hati penuh cinta, kelembutan dan ketulusan. Dengan kualitas kemampuan bahasa yang dimiliki, Aisyah menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan. Ia menguasai ilmu Al-Qur’an, hadits, fiqih, kedokteran, hukum, sejarah dan silsilah bangsa Arab. Lebih dari itu Aisyah juga menguasai pokok-pokok bahasa dan perkembangannya, ini juga karena adanya bakat, minat dan antusiasme Aisyah yang tinggi terhadap bahasa dan sastra Arab.
Bahasa menguak cakrawala kemempuannya dalam beretorika. Karena itu pula Ummul Mukminin Aisyah ra. mengatakan, “Ajarkanlah anak-anak kalian syair, agar lisan mereka cakap bertutur kata”. Sebuah ungkapan yang mendalam menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap keindahan bahasa Arab.
Mungkin ketika melihat judul buku yang bersampul hijau ini pembaca menyangka bahwa didalamnya terdapat cerita kehidupan rumah tangga Aisyah bersama Rasulullah yang sangat romantis dan diidamkan oleh setiap pasangan suami istri. Namun, isi buku ini lebih kepada sosok figur Aisyah yang memiliki kepandaian dalam tata bahasa dan sastra Arab. Kalau kita tilik lebih jauh, selain kesahajaan, dan cinta kasih yang tulus, ternyata komunikasi dan kelembutan bahasa Aisyah pula lah yang menambah keromantisan dalam hidup berumah tangga dengan Rasulullah SAW.
Sang penyandang sutera hijau mampu menempatkan ungkapan (frase/idiom) yang sesuai dengan konteksnya sehingga tepat sasaran, dan mungukuhkan sesuatu yang dibutuhkan oleh seni sastra sesuai dengan konteks kalimat, sehingga memberikan fokus pengaruh pada diri orang yang membaca atau mendengarnya.
Hal ini dapat kita lihat kalimat (tutur bahasa) Aisyah ketika ia lapang dan ketika ia marah, sehingga Rasulullah SAW pun memahami istrinya. Ketika Aisyah lapang, ia berkata: “Tentu, demi Tuhan Muhammad!”. Artinya, pada dirinya terakumulasi seluruh aspek kebahagiaan tak terbatas. Maka ia pun menyebut nama suami tercintanya. Bagaimana ketika ia marah?, Ketika Aisyah marah, ia hanya meninggalkan nama suami tercintanya dengan mengucapkan kalimat “Tidak, demi Tuhan Ibrahim.” Ini menandakan kecintaan Aisyah pada Rasulullah SAW bersemayam kuat di dalam dirinya, dan tidak akan berubah selamanya. Betapa indah kehidupan rumah tangga ini.

Tidak ada komentar: